Mulla Sadra Society – Indonesia

Latar Belakang

MULLA SADRA SOCIETY OF INDONESIA

Latar Belakang

Zaman keemasan teknologi di satu sisi menawarkan manusia kemudahan hidup dalam segala hal. Namun di sisi lainnya, kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat dunia secara umum tengah mengalami krisis multidimensional, termasuk moral dan spiritual. Sehingga pada akhirnya menggiring umat manusia ke arah kehampaan nilai-nilai untuk kemudian terasingkan dari poros eksistensi. Kita dapat menemukan beberapa contoh kasus ekstrem yang mewarnai dunia, orang yang bergelimang harta kekayaan materi namun memilih bunuh diri karena kehampaan dalam hidupnya, juga orang-orang yang demi kepentingan pribadi atau golongannya mengabaikan nilai moral dengan melakukan kezaliman, kekerasan dan peperangan (dalam skala yang lebih besar). Semua ini menunjukkan kurangnya kearifan dan kebijaksanaan dalam memaknai kehidupan.

Salah satu penyebabnya adalah akibat cara pandang dunia (world-view) yang dianggap sudah mapan akan tetapi tanpa disadari telah mengesampingkan aspek penting lainnya, yakni cara pandang filosofis yang mengusung nilai-nilai spiritualisme. Paradigma modern di satu sisi berhasil mengembangkan sains dan teknologi yang memudahkan kehidupan manusia, namun di sisi lainnya telah mereduksi kekayaan kehidupan manusia itu sendiri. Termasuk juga telah mereduksi nilai-nilai filosofis dan spiritual. Untuk itu dibutuhkan suatu paradigma baru yang lebih holistik, yakni sebuah pandangan dunia baru yang menyeluruh dalam mempersepsi realitas. Hal ini dapat ditemukan dalam Filsafat Hikmah yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang sejalan dengan spiritualisme.

Melalui pandangan yang lebih filosofis dan holistik, diharapkan ada interaksi yang erat antara filsafat (dalam hal ini filsafat hikmah) dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya, apalagi ilmu filsafat pernah diterima secara luas sebagai “mother of science.” Pandangan ini mengharapkan suatu pencapaian integrasi ilmu, meskipun dengan berbagai sumber fakultas yang berbeda namun terintegrasi secara harmonis. Manusia telah dianugerahi secara lengkap berbagai macam sumber fakultas untuk mencerap nilai dan pengetahuan untuk memaknai kehidupannya. Hal ini diharapkan dapat menghilangkan dikotomi antara ilmu agama yang bersumber dari wahyu ilahi dan yang non-agama, dikotomi antara ilmu sains yang bersumber dari pengamatan empiris (melalui indera) dengan ilmu filsafat yang bersumber dari pemikiran rasional (melalui akal), juga dikotomi antara ilmu filsafat dan ilmu tasawuf / irfan yang bersumber dari pengalaman spiritual (melalui dzauq/ intuisi kalbu).

Dalam hal ini, seorang filsuf Muslim Mulla Sadra, dengan pemikiran-pemikirannya dalam Filsafat Hikmah yang brilian dan orisinil mampu menjawab semua tantangan itu. Filsafat Hikmah merupakan evolusi dari Filsafat Islam yang bagi sebagian besar orang, dianggap telah berakhir hanya sampai masa Ibnu Rusyd, dan diikuti dengan menurunnya peradaban Islam. Namun di bagian wilayah lain, Filsafat Islam tetap bertahan dan berkembang menjadi Filsafat Hikmah yang diperkenalkan Mulla Sadra. Filsafatnya bukan hanya didasarkan pada pengalaman transintelektual dan gnostik, tetapi juga berupa sistem rasional yang solid. Ia berjasa dalam menunjukkan dan menawarkan cara pandang holistik menuju paradigma keilmuan yang Islami, karena beliau mampu menjembatani filsafat sebagai “mother of science” dengan ilmu agama / teologi dan tasawuf / ‘irfan secara harmonis. Pemikiran beliau juga unik, dibingkai dengan nilai spiritualitas sebagai suatu perjalanan: 1) dari Mahkluk MENUJU Tuhannya 2) Dengan Tuhan DALAM Tuhan 3) DARI dan dengan Tuhan menuju makhluk dan 4) dalam makhluk DENGAN Tuhan

Namun, ketika berbicara tentang Mulla Sadra, sangat disayangkan bahwa beliau dan pemikiran-pemikirannya tidak banyak dikenal dan dikaji di Indonesia Berangkat dari kepedulian tersebut dan untuk membangun peradaban bangsa yang lebih baik, maka dari diskusi kecil antara beberapa teman yang memiliki minat sama dalam filsafat Islam dan tasawuf, muncullah ide untuk membentuk sebuah komunitas yang mampu mewujudkan gagasan yang berhubungan dengan bidang keilmuan yang tengah digeluti. Untuk itulah Mulla Sadra Society of Indonesia hadir mencoba mengusung idealisme ini, karena bagaimanapun untuk mengejawantahkan sebuah idealisme diperlukan suatu wadah yang menampung berbagai aspirasi. Sebagai langkah awal yang ditempuh adalah memperkenalkan karya-karyanya itu kepada masyarakat luas melalui kegiatan penerjemahan, membuka kursus / kajian, seminar, dan sebagainya. Diharapkan, dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai dalam filsafat Hikmah, perlahan tapi pasti, sebagai bagian dari masyarakat muslim, kita tersadar dari tidur panjang untuk kembali kepada peradaban Islami yang pernah mencapai kegemilangan di masa lampau. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: