Mulla Sadra Society - Indonesia

Mulla Shadra dan Perjalanan Kehidupan Menuju, Dalam, Dari dan Dengan Tuhan (Al-Haqq)

Advertisements

M. Norsatya Azmatkhan

Mulla Shadra adalah salah seorang filosof Muslim terbesar sebagai pelopor Filsafat Hikmah. Bila menilai dari keahliannya, beliau juga bisa diidentifikasi sebagai seorang arif / sufi serta seorang ahli ulama ilmu kalam / teologi (Mutakalim). Hal itu berkat jasanya mensintesis & mengintegrasi bidang-bidang keilmuan tersebut dengan filsafat hikmahnya serta mampu menyelesaikan berbagai perselisihan antara mazhab-mazhab keilmuan tersebut. Namun demikian pemikiran filsafatnya bukanlah sekedar hasil sebuah penggabungan, melainkan suatu system khusus filsafat, sekalipun berbagai metode pemikiran Islam memberikan pengaruh yang cukup berarti dalam terciptanya metode filsafat ini, namun kita harus menganggapnya sebagai suatu system pemikiran yang mandiri. Perlu pula diingat, Mulla Shadra menunjukkan pengetahuan yang luas lagi mendalam tentang Al-Quran dan hadist, sehingga mazhab yang dianutnya ini dapat dinilai lebih islami dalam hal kandungannya, dan selain mempertemukan berbagai ragam pemikiran, beliau mengajukan pula ide-ide baru dengan titik tekan tertentu, sehingga membentuk mazhab filsafat baru di dunia Islam, bahkan filsafat ini semakin menunjukkan sosok-kuatnya di Iran dewasa ini dan diharapkan kedepannya ke berbagai belahan dunia Islam lainnya pula sebagai langkah untuk mewujudkan kembali kejayaan peradaban Islam.

Empat Perjalanan Rohani / Spritual

Di antara usaha yang dilakukan Mulla Shadra adalah menjelaskan pembahasan filsafat, yang merupakan suatu bentuk pelajaran penalaran dan pemikiran, disusun secara sistematis, sehingga menyerupai kaum arif / sufi dalam menjelaskan masalah perjalanan rohani dan hati, dimana dipercayai bahwa seorang pengembara rohani (salik) harus menempuh perjalanan & pengembaraan rohani diantara 4 tahapannya, yakni sebagai berikut :

1). Perjalanan dari makhluk ‘MENUJU’ Al-Haq / Tuhan (sayr min al-khalq ila Al-Haq)

Pada tahap ini, pengembara rohani / spiritual berusaha untuk melewati dan meninggalkan alam realitas dan sebagian alam metafisika, sehingga mampu berjumpa dengan Al-Haq dan tidak ada lagi tirai pembatas.

2). Perjalanan dengan Al-Haq ‘DALAM’ Al-Haq / Tuhan (sayr bi Al-Haq fi Al-Haq)
Setelah pengembara spiritual dekat dengan zat Al-Haq, maka dengan bantuan-Nya ia mengadakan perjalanan dalam berbagai kesempurnaan dan sifat-sifat-Nya.

3). Perjalanan ‘DARI’ dan dengan Al-Haq / Tuhan menuju makhluk (sayr min Al-Haq ila al khalq bi Al-Haq)
Sang Pengembara spiritual kembali ke tengah masyarakat, namun kembalinya ini bukan berarti berpisah dari Al-Haq, ia menyaksikan keberadaan Al-Haq pada segala sesuatu dan bersama segala sesuatu.

4). Perjalanan dalam makhluk ‘DENGAN’ Al-Haq / Tuhan (sayr fi al khalq bi Al-Haq)
Sang Pengembara spiritual berusaha untuk memberi petunjuk kepada masyarakat serta membimbing mereka kepada Al-Haq.

Mulla Shadra menyusun berbagai permasalahan filsafatnya berdasarkan pada metode perjalanan dan pengembaraan yang bersifat pemikiran dan mental ke dalam bingkai empat bentuk perjalanan tersebut.
1). Permasalahan yang merupakan dasar dan landasan tauhid (topik-topik umum filsafat) pada hakikatnya perjalanan pemikiran kita dari makhluk ‘MENUJU’ Al-Haq
2). Pembahasan tauhid dan mengenal Tuhan serta sifat-sifat Ilahi sebagai Perjalanan dengan A-Haq ‘DALAM’ Al-Haq
3). Pembahasan berbagai perbuatan Tuhan dan berbagai alam universalia eksistensi sebagai Perjalanan ‘DARI’ dan dengan Al-Haq menuju makhluk
4). Pembahasan tentang jiwa dan tempat kembali sebagai Perjalanan dalam makhluk ‘DENGAN’ Al-Haq

Buku karangan Mulla Shadra, Asfar al-Arba’ah, yang memiliki arti empat perjalanan, disusun berdasarkan system dan urutan di atas. Mulla Shadra menamakan system khusus filsafatnya ini dengan nama Filsafat Hikmah / Hikmah Muta’aliyah. Beliau menyebut filsafat lainnya yang popular dan biasa digunakan oleh umum, termasuk di dalamnya filsafat iluminasi dan peripatetic, dengan sebutan filsafat konvensional / umum.

Mengenai perjalanan kehidupan Mulla Shadra sendiri; beliau dilahirkan di Syiraz dimana ayahnya merupakan pegawai tinggi pemerintah setempat. Mulla Shadra wafat di Basrah, saat melakukan haji ketujuhnya ke Mekkah (wafat 1050 H). Sebagai seorang ulama yang produktif, Shadra meninggalkan karya meliputi hampir 50 buku tentang berbagai soal di hampir setiap disiplin ilmu-ilmu tradisional Islam. Mengikuti penjelasannya sendiri dalam Asfar Al-Arba’ah, para ahli sejarah membagi perjalanan kehidupannya dalam 3 Periode tahapan perjalanan kehidupan dari antara 4 Tahapan Perjalanan Rohani.

1). Periode Pertama kehidupan Mulla Shadra sebagai Perjalanan Rohani dari makhluk ‘MENUJU’ Al-Haq
Pada periode ini, Mulla Shadra mengambil pendidikan formal di bawah asuhan guru-guru terbaik pada zaman itu. Di bawah asuhan Syeikh Baha’Al-Din Al-‘Amili (wafat 1622 M) beliau menerima pendidikan ilmu hadist, tafsir, syarah Al-Quran dan fiqih, khususnya fiqih Ja’fari. Pada tahap berikutnya, dia menerima pendidikan ilmu-ilmu filosofis dibawah asuhan Mir Damad, yang dijuluki Sang Guru Ketiga (setelah Aristoteles dan Al-Farabi). Setelah merampungkan pendidikannya, Shadra meninggalkan Isfahan, karena kritik sengit terhadap pandangan-pandangannya dari kaum ulama yang dogmatis. Hal ini membawanya pada periode kehidupan berikutnya.

2). Periode Kedua kehidupan Mulla Shadra sebagai perjalanan rohani dengan Al-Haq ‘DALAM’ Al-Haq
Pada periode ini, Mulla Shadra menarik diri dari khalayak, menjalani uzlah di sebuah desa kecil dekat Qum. Selama periode ini, pengetahuan yang pernah diperolehnya mengalami kristalisasi yang semakin utuh. Kreatifitasnyapun menemukan tempat penyaluran dengan menyusun beberapa bagian dari kitab Asfar Al-Arba’ah dalam periode kehidupannya ini.

3). Periode Ketiga kehidupan Mulla Shadra sebagai Perjalanan rohani ‘DARI’ dan dengan Al-Haq menuju makhluk.
Pada periode ini, Mulla Shadra kembali sebagai pengajar di Syiraz, dan menolak tawaran untuk mengajar atau menduduki jabatan resmi di Isfahan. Semua karya pentingnya beliau hasilkan dalam periode ini. Beliau tidak berhenti menghidupkan semangat kontemplatifnya. Beliau melakukan praktek asketis dan sebagaimana disebutkan dalam karyanya, beberapa argument filosofisnya dia peroleh melalui pengalaman spiritualnya (vision, mukasyafah).

Meskipun, para ahli sejarah mengikuti penjelasan Mulla Shadra sendiri dalam Asfar Al-Arba’ah membagi perjalanan kehidupannya hanya sampai dalam Periode ke-3 Perjalanan kehidupannya dari 4 Tahapan Perjalanan Rohani, (kemungkinan karena ketawadukan beliau) namun dalam pandangan penulis (wallahu alam bi showab), Mulla Shadra, telah pula memasuki tahapan ke-4 Perjalanan Rohani, yakni
4. Perjalanan rohani dalam makhluk ‘DENGAN’ Al-Haq, dalam tahapan ini Sang Pengembara Spiritual berusaha untuk memberi petunjuk kepada masyarakat serta membimbing mereka kepada Al-Haq. Dalam hal ini, Tahapan ke-4 bagi seorang salik adalah ketika ia menjadi mursyid dan membimbing muridnya untuk ‘melakukan’ pula perjalanan rohani MENUJU, DALAM, DARI & DENGAN Al-Haq. Dalam periode ketiga, Mulla Shadra kembali dari uzlahnya ke masyarakat untuk mengajar, hal ini akan memasuki tahapan keempat bila diantara murid-muridnya ada yang tidak cuma sekedar paham, namun juga sadar untuk ‘menggunakan’ ajaran beliau sebagai bimbingan dalam ‘melakukan’ pula perjalanan Rohani tersebut. Atau dengan kata lain ada murid hasil bimbingan ajaran Mulla Shadra yang menjadi penerusnya mengikuti jejak beliau dalam melakukan Perjalanan Rohani MENUJU, DALAM, DARI & DENGAN Al-Haq dan meneruskan estafet perjalanan ruhani ini kepada calon salik/murid yang lain di sepanjang zaman. Penulis memandang, dengan sampainya ajaran ilmu beliau kepada kita, melalui para murid penerusnya sampai masa kini yang paham & mempraktekkan ajarannya (melalui menantu beliau dan para murid penerus & pengikut mazhabnya seperti Haji Mulla Hadi Sabzewari, w. 1212-1297 H), merupakan pertanda bahwa beliau berhasil mencapai maqam tahap keempat. Meskipun secara fisik, sudah meninggal, menurut pandangan penulis, Mulla Sadra dalam tahap perjalanan rohani keempat; beliau bisa dipandang sebagai orang yang berjihad di jalan Allah dengan ilmu yang bermanfaat, Quran menjelaskan orang seperti itu tidaklah mati, namun Hidup DENGAN AL-HAQ, dan dengan melalui ilmu bermanfaatnya yang membimbing, beliau juga tetap hidup, DALAM sanubari pengikut mazhabnya (MAKHLUK) yang paham & menjalani pula 4 Perjalanan Ruhani / Spiritual. (Semoga kita semua juga termasuk penempuh perjalanan Ruhani tersebut dan mencapai tahap maksimal yang sesuai kadar optimal kita)

(Disadur dari berbagai sumber)

Advertisements